Srikandi Riau Itu Telah Dipanggil Sang Pencipta

July 31, 2021 / pojoknus
IMG-20210728-WA0136

POJOK NUSANTARA – Riau,Duka menyelimuti warga Riau. Dinihari tadi, Rabu, 28 Juli 2021, Rosti Uli Purba (68) mengakhiri peziarahannya di dunia. Tokoh Riau berdarah Batak, itu menghadap Sang Khalik.

Saya mendengar, beliau sempat terpapar Covid-19 dan dirawat intensif beberapa pekan sebelumnya di salah satu rumah sakit di Kota Pekanbaru. Namun, sebelum ajal menjemputnya, Inang (sapaan saya untuknya) sudah dinyatakan negatif.

Lebih dari itu, saya tak mengetahui apa penyebab kematiannya. Bisa jadi, ganasnya Covid-19 sempat merusak organ tubuhnya. Ditambah faktor umur yang sudah rentan, lansia.

Meski lahir di Pematang Siantar, 8 September 1953 lalu, namun sulit membantah bahwa Inang adalah putri terbaik Riau. Lebih dari 3/4 waktu hidupnya dihabiskan di Bumi Lancang.

Ia setia mendampingi sang suami, Pak Silaban yang beberapa tahun lebih dulu dipanggil Sang Pencipta. Pak Silaban sempat menduduki jabatan Kepala Cabang Dinas Kehutanan Kabupaten Indragiri Hilir.

Inang bukanlah wanita yang biasa-biasa saja. Ia perempuan super, pekerja keras, tak gampang menyerah serta gigih berjuang.

Ia adalah pemecah rekor sejarah politik di Riau. Pada 2014 lalu, Rosti Uli dipercaya sebagai anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI mewakili Provinsi Riau yang memperoleh 197.562 suara. Sebuah prestasi yang sebelumnya tak pernah diraih wanita berdarah Batak asal Riau. Posisi itu menempatkan dirinya sebagai sosok wanita pertama Batak di Tanah Rantau Riau yang mampu menembus Senayan.

Pada pemilu 2019 lalu, Rosti kembali mencalonkan diri. Namun, raihan suaranya tak cukup untuk mengamankan satu kursi. Ia bertengger di ranking 5 dengan perolehan 158.556 suara. Hanya empat besar peraih suara terbanyak yang ditetapkan sebagai anggota DPD RI dari tiap provinsi.

Inang sesungguhnya bukanlah politisi. Tak pintar gerilya zig zag, bermanuver dan main telikung kiri kanan. Kotornya permainan politik justru menjadi bahan tertawaannya.

Ia tak mahir beretorika dan mengatur kata-kata. Ia polos dan bicara apa adanya. Jauh dari kesan dan tabiat politisi yang kerap mengumbar kalimat-kalimat hiperbola, meski setelah itu lupa.

Namun, bukan berarti Inang tak memahami cara bermain politik. Baginya, politik ibarat aliran sungai yang harus dilalui dengan ikhlas, bukan dilawan dengan keras.

Jalan politik adalah pengabdian baginya. Barangkali, lewat jalur ini dapat menghantarkannya pada level “Hasangapon” yang dalam nomenklatur Batak diterjemahkan sebagai kehormatan dalam status sosial. Jabatan politik bukan alat dan sarana memperkaya diri dan keluarganya.

Perihal tidak lolosnya dalam pemilu 2019 lalu, dengan besar hati ia menyebut hal itu sebagai rencana terbaik Tuhan. Di usianya kepala 6, ia lebih memiliki waktu yang cukup bersama anak dan cucu-cucunya. Selama 5 tahun penuh pengabdiannya di Senayan, praktis ia kehilangan kebersamaan yang cukup dengan keluarga, karena tanggung jawabnya sebagai senator Riau.

Menjadi Senator asal Riau hanya bagian kecil (5 tahun) dari karya dan dedikasinya untuk Riau. Rosti dikenal sebagai sosok yang murah hati, peduli dan berjiwa sosial, jauh sebelum ia duduk sebagai anggota DPD RI.

Jika datang ke kediamannya di Jalan Durian, Pekanbaru maka akan terlihat sejumlah anak kecil yang bebas bermain di rumahnya. Mereka adalah anak-anak yatim yang dirawat oleh Inang, seperti anaknya sendiri. Ia tak bisa melihat orang lain susah, apalagi anak kecil yang ditinggalkan orangtuanya. Saya tak bisa membayangkan betapa perih dan kagetnya anak-anak itu kini telah ditinggal oleh Inang.

Satu ketika, saya pernah membawa anak perempuan saya yang masih berumur 4 tahun ke rumahnya. Saat itu, sedang ada sebuah rapat kegiatan gerejawi. Saat pulang dari rapat, putri saya sudah mengenakan pakaian baru, pemberian Inang. Saya kaget.

Ia juga banyak mempekerjakan orang-orang tak berpunya. Silih berganti orang dibantunya dengan aneka keluhan, kebutuhan, sakit dan ragam masalah lain.

Rumah kediamannya di Jalan Durian yang dikenal dengan sebutan Komplek Langgam ibarat dapur umum. Siapa yang singgah akan disuguhkan makanan. Sejumlah ruangan di depan bangunan utama rumah, juga dijadikan kantor tak berbayar organisasi sosial dan gerejawi.

Dua kali setahun, Rosti selalu menggelar pembagian ‘angpao’, utamanya jelang Hari Raya Natal dan Lebaran Idul Fitri. Ia juga rutin membagikan paket sembako bagi warga kurang mampu lintas suku dan agama. Aneka proposal bantuan ia ladeni, tanpa pernah satupun ditolak.

“Bukan berarti saya punya banyak uang dan kaya raya. Tapi saya sedih ketika tidak bisa memberi bantuan,” begitu penuturannya ketika saya tanya alasannya gemar menderma.

Rosti Uli juga seorang aktivis sosial. Ia banyak menghabiskan waktu hidupnya untuk aneka organisasi sosial maupun politik. Ia pernah menjadi ketua partai politik di Riau, pada era booming partai awal reformasi dulu. Ia juga sempat ikut mendaftar sebagai calon legislatif. Terakhir, ia menduduki posisi Wakil Bendahara Umum DPP Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura).

Sejumlah ormas mencantumkan namanya dalam jabatan pembina dan penasihat, entah itu telah dikonfirmasi atau tidak terlebih dulu darinya.

Terakhir, ia dipercaya sebagai Ketua Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) Provinsi Riau. Saya juga merupakan pengurus organisasi tersebut dan menjadi Sekretaris Panitia pelantikan pengurus, akhir tahun lalu. Akhir-akhir ini saya kurang aktif di KMDT, sehingga tak pernah bertemu langsung dengan Inang sampai ajal menjemputnya.

Sosoknya yang supel, rileks, ramah dan keibuan membuatnya banyak disukai orang. Pergaulannya lintas batas dan bisa menembus sekat sosial.

Ia bisa duduk nyaman dengan kalangan bawah dan rakyat jelata di akar rumput. Ia tak berjarak, jaim apalagi gengsi, menyatu dengan rakyat.

Namun, Rosti tak kikuk pula dalam pergaulan di level nasional dan elit. Ia salah satu orang dekat Oesman Sapta Oedang (OSO), pengusaha nasional yang juga Ketua Umum DPP Partai Hanura. Rosti bersahabat dan kenal baik dengan politisi dan pejabat nasional di Tanah Air.

Nyaris, saya tak pernah melihat Inang marah pada orang lain, berkata kasar dan keras, meski ia sering dilanda kekecewaan. Ia cepat melupakan kesalahan orang lain, ia pemaaf.

Hari ini, kami yang “sedikit” mengenalmu terkejut dan sedih.

Kembalilah kepada Sang Pencipta. Amal dan ibadah mengantarkanmu ke Rumah Bapa di Surga.

Dalam Duka Mendalam
Rabu, 28/07/2021

Raya Desmawanto Nainggolan

art1

Jangan Lewatkan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

News Feed

Anis Tinal Terpilih sebagai Ketua Umum FOKMAP-NTT

September 14, 2021

Forum komunikasi Mahasiswa Papua Nusa Tenggara Timur. Usai Mengadakan Pelantikan Badan pengurus baru periode 2021-2023, Sekaligus Ibadah Syukuran. Dalam Musyawarah Besar (MUBES), Forum Komunikasi Mahasiswa […]

7 Tips Menjadi YouTuber Sukses

September 14, 2021

POJOK NUSANTARA – Opini,Salah satu platform digital yang saat ini digemari oleh banyak kalangan baik muda maupun tua adalah youtube.jika di tanya pada anak anak […]

Kolaborasi Digital Leader, Menkominfo: Kepemimpinan Digital Kunci Transformasi

September 13, 2021

POJOK NUSANTARA – Jakarta, Era disrupsi ditandai dengan pesatnya perkembangan digitalisasi yang memunculkan beragam inovasi dan perubahan besar secara fundamental mengubah sistem tatanan dan lanskap […]

Rapel Semarang Lakukan Tindak Lanjut PHBS Di Tambak Mulyo

September 10, 2021

POJOK NUSANTARA – Semarang, Sebagai tindak lanjut program peningkatan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tambak Mulyo, tim Rapel (Rapel.id) Semarang yang dipimpin Fitri […]

Jadi Katalis Transformasi Digital, Menteri Johnny: Pemerintah Prioritaskan 10 Sektor

September 9, 2021

Siaran Pers No. 322/HM/KOMINFO/09/2021 Rabu, 8 September 2021 Tentang POJOK NUSANTARA – Jakarta, Menindaklanjuti arahan Presiden Joko Widodo mengenai agenda percepatan transformasi digital nasional, Kementerian […]

ads
ads
ads